Pemerintah pun bergerak cepat dengan memastikan ketersediaan pasokan minyak mentah hingga akhir tahun 2026.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas energi nasional dalam jangka pendek di tengah ketidakpastian global.
“Untuk crude satu tahun dari mulai bulan ini sampai dengan bulan Desember, insyaallah sudah aman. Jadi kita nggak perlu risau, tinggal kita meningkatkan produksi daripada kilang kita,” jelas Bahlil.
Selain fokus pada pasokan minyak, pemerintah juga mulai membuka peluang kerja sama investasi strategis dari Rusia.
Investasi tersebut mencakup pembangunan infrastruktur energi seperti kilang dan fasilitas penyimpanan (storage) yang memiliki nilai strategis tinggi.
“Dari pihak Rusia akan siap membangun beberapa infrastruktur yang penting, dalam rangka meningkatkan cadangan dan ketahanan energi nasional kita,” ujar Menteri ESDM.
Proses finalisasi investasi masih memerlukan pembahasan lanjutan antara kedua negara.
“Memang ada beberapa investasi mereka yang sudah siap untuk masuk, tetapi finalisasinya tunggu ada 1-2 putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage,” ungkapnya.
Kerja sama ini akan dijalankan melalui berbagai skema, baik antar pemerintah maupun antar pelaku usaha.
“Kerja sama ini dilakukan dalam waktu jangka panjang ya. Jadi karena waktu kerja sama jangka panjang, jadi kita melakukan baik G2G maupun B2B. Menyangkut dengan storage merupakan bagian daripada kesepakatan yang kemarin kita lakukan,” lanjutnya.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah menjajaki peluang kerja sama dalam pemenuhan kebutuhan LPG nasional.
















































Discussion about this post