ISTANAGARUDA.COM – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) diprediksi akan menjadi kekuatan utama di balik lahirnya sebagian besar obat-obatan baru dunia dalam satu dekade mendatang, sebuah perubahan besar yang diyakini mampu merevolusi riset medis dan mempercepat lahirnya terapi masa depan.
Laporan terbaru dari Capgemini Research Institute mengungkapkan bahwa platform berbasis AI diperkirakan akan berkontribusi terhadap 60 persen New Molecular Entities (NME) atau entitas molekul baru dalam 10 tahun ke depan.

Angka tersebut melonjak drastis dibanding kondisi saat ini yang masih berada di kisaran 12 persen.
Perkembangan ini dinilai membawa dampak besar terhadap proses penemuan obat hingga pengembangan klinis di industri biofarmasi.
Thorsten Rall selaku Global Industry Lead for Life Sciences di Capgemini menjelaskan bahwa AI kini tidak lagi hanya berperan sebagai alat pendukung riset.
Menurutnya, AI mulai berubah menjadi motor utama dalam proses penemuan obat modern.
Pada masa lalu, AI umumnya hanya digunakan untuk membantu ilmuwan menganalisis data atau menentukan prioritas senyawa tertentu dalam penelitian.
Namun kini, peningkatan kemampuan komputasi dan teknik pemodelan membuat AI mampu membantu peneliti menentukan eksperimen dalam hampir seluruh tahapan riset dan pengembangan.
Teknologi tersebut bahkan dapat memprediksi pelipatan protein, kekuatan ikatan molekul, menghasilkan target biologis potensial sebelum pengujian laboratorium dimulai, hingga merekomendasikan eksperimen berdasarkan hasil langsung dari laboratorium otomatis.
















































Discussion about this post