ISTANAGARUDA.COM – Gelombang transformasi kecerdasan buatan di sektor manufaktur global ternyata belum mampu berjalan maksimal karena dunia industri kini menghadapi hambatan besar berupa kekurangan tenaga kerja terampil dan minimnya kemampuan digital sumber daya manusia.
Temuan tersebut terungkap dalam survei terbaru yang dilakukan Fluke Corporation mengenai tingkat kematangan digital industri manufaktur.
Perusahaan itu menyebut bahwa kesenjangan keterampilan kini menjadi penghalang terbesar dalam upaya perusahaan mengembangkan teknologi berbasis AI dan otomatisasi industri.
Sekitar 78 persen hambatan yang dilaporkan responden berkaitan langsung dengan kurangnya tenaga ahli, keterbatasan pengetahuan teknis, dan minimnya pekerja dengan keterampilan khusus.
Presiden Grup Fluke Corporation, Parker Burke, menegaskan bahwa kemampuan tenaga kerja kini menjadi faktor utama keberhasilan transformasi digital industri.
“Temuan kami menunjukkan bahwa keandalan dan keterampilan tenaga kerja sekarang menjadi faktor penting dalam mengubah pengeluaran teknologi menjadi peningkatan operasional yang terukur.”
“Kita membutuhkan solusi terhadap kekurangan keterampilan untuk melengkapi investasi teknologi demi mendapatkan hasil terbaik,” katanya.
Tekanan terhadap sektor manufaktur semakin meningkat seiring perubahan kebutuhan industri akibat hadirnya operasional berbasis AI.
Riset McKinsey & Company menunjukkan bahwa kesenjangan antara keterampilan tenaga kerja saat ini dan kemampuan yang dibutuhkan industri berkembang jauh lebih cepat dibanding kemampuan perusahaan untuk beradaptasi.













































Discussion about this post