ISTANAGARUDA.COM – Di tengah persaingan kecerdasan buatan yang semakin brutal dan dipenuhi investasi raksasa teknologi dunia, ambisi besar Elon Musk melalui Grok kini menghadapi tekanan serius setelah data terbaru menunjukkan pertumbuhan pengguna yang melambat, minimnya pelanggan berbayar, hingga lemahnya penetrasi di pasar bisnis.
Elon Musk meluncurkan Grok pada akhir 2023 dengan tujuan menantang dominasi OpenAI, Anthropic, dan Google di industri artificial intelligence atau AI global.
Namun dua tahun setelah peluncurannya, performa Grok justru dinilai belum mampu mengejar para pesaing utama yang terus berkembang agresif di pasar konsumen maupun enterprise.
Data pasar terbaru yang dihimpun Wall Street Journal menunjukkan bahwa pertumbuhan pengguna Grok mulai kehilangan momentum.
Selain itu, tingkat adopsi layanan berbayar juga dinilai sangat rendah dibandingkan platform AI lainnya.
Di saat yang sama, perusahaan-perusahaan milik Musk disebut mulai menjual kapasitas komputasi penting kepada pihak lain, alih-alih sepenuhnya digunakan untuk mempercepat pengembangan Grok.
Popularitas Grok sempat melonjak drastis pada Januari 2026 setelah fitur-fitur kontroversialnya ramai dibicarakan di media sosial.
Berdasarkan data dari AppMagic, jumlah unduhan aplikasi Grok sempat menembus lebih dari 20 juta pada Januari.
Namun lonjakan tersebut tidak bertahan lama.
Pada April 2026, angka unduhan Grok dilaporkan turun tajam hingga hanya sekitar 8,3 juta unduhan.
Peningkatan popularitas itu dipicu oleh fitur generator gambar yang memungkinkan pengguna memodifikasi foto seseorang secara virtual hingga menghasilkan gambar vulgar.
















































Discussion about this post