Fitur tersebut dengan cepat menyebar luas di internet dan digunakan untuk membuat gambar palsu eksplisit yang melibatkan selebritas, influencer, hingga masyarakat umum.
Kontroversi pun membesar setelah muncul laporan bahwa teknologi tersebut juga dipakai terhadap foto anak di bawah umur.
Sejumlah regulator dan pembuat kebijakan dari berbagai negara kemudian mengambil langkah pembatasan terhadap sebagian fitur Grok karena kekhawatiran terkait deepfake tanpa persetujuan.
xAI akhirnya membatasi akses terhadap beberapa fitur kontroversial tersebut.
Meski sempat mendongkrak trafik pengguna, kontroversi itu ternyata gagal menghasilkan pertumbuhan jangka panjang bagi Grok.
Perusahaan riset Recon Analytics menemukan bahwa tingkat penggunaan layanan berbayar Grok hampir tidak mengalami perubahan selama setahun terakhir.
Dalam survei terhadap lebih dari 260 ribu pengguna dan pekerja AI di Amerika Serikat, hanya 0,174 persen responden yang mengaku membayar layanan Grok pada kuartal kedua 2026.
Angka tersebut nyaris tidak berubah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka 0,173 persen.
Sebaliknya, lebih dari 6 persen responden mengaku membayar layanan ChatGPT.
Persaingan paling ketat saat ini justru terjadi di sektor enterprise AI, terutama pada layanan coding assistant dan perangkat produktivitas kerja.
Dalam segmen tersebut, posisi Grok kembali tertinggal.
Lembaga riset Enterprise Technology Research melakukan survei terhadap sekitar 500 responden perusahaan.
Hasilnya, hanya 7 persen perusahaan yang menyatakan menggunakan dan berencana melanjutkan penggunaan Grok pada Maret 2026.
















































Discussion about this post