Chief Product Officer Fluke Corporation, Vineet Thuvara, mengatakan perkembangan tersebut cukup menjanjikan, tetapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan industri masa depan.
“Kemajuan ini menggembirakan, tetapi masih belum cukup. Pemeliharaan prediktif bukan lagi ambisi masa depan: ini adalah standar dasar.”
“Tantangan berikutnya bagi produsen adalah memperluas adopsi dan mengintegrasikannya ke seluruh organisasi, memastikan kemampuan ini bekerja secara harmonis, bukan terpisah,” ujarnya.
Fluke juga mencatat bahwa 72 persen organisasi kini mengalokasikan sekitar 16 hingga 30 persen anggaran pemeliharaan mereka untuk teknologi baru.
Fokus pengeluaran industri mulai bergeser dari sekadar eksplorasi AI menuju kebutuhan operasional yang lebih nyata.
Prioritas baru tersebut meliputi keamanan siber, pengelolaan data, AI generatif, dan AI industri yang digunakan langsung untuk mendukung operasional harian perusahaan.
Hampir separuh responden bahkan berencana mempercepat penerapan sistem connected reliability dalam 12 bulan ke depan.
Langkah itu menunjukkan bahwa industri manufaktur global kini semakin serius membangun sistem AI terintegrasi lintas lokasi untuk meningkatkan efisiensi, keamanan, dan daya saing jangka panjang.(*)













































Discussion about this post