Situasi tersebut diperkirakan akan semakin serius dalam beberapa tahun mendatang.
Studi gabungan antara Deloitte dan Manufacturing Institute memproyeksikan industri manufaktur membutuhkan hingga 3,8 juta pekerja baru pada tahun 2033.
Namun, sekitar 1,9 juta posisi diperkirakan tetap kosong karena minimnya tenaga kerja dengan kemampuan yang sesuai kebutuhan industri modern.
Kondisi itu mendorong banyak perusahaan mempercepat pelatihan tenaga kerja untuk mengejar kebutuhan keterampilan baru di era AI.
Di Amerika Serikat, dukungan terhadap pelatihan tenaga kerja mulai mendapat perhatian besar dari industri teknologi.
Google bahkan mengumumkan investasi sebesar US$10 juta pada 2026 untuk membantu Manufacturing Institute melatih sekitar 40 ribu pekerja manufaktur saat ini maupun generasi pekerja masa depan agar memiliki kemampuan AI.
Laporan State of Workforce Training in Manufacturing yang dirilis April 2026 juga mengungkap bahwa 54,4 persen perusahaan kini meningkatkan program pelatihan untuk tenaga kerja mereka yang sudah ada.
Selain isu tenaga kerja, survei Fluke juga memperlihatkan lonjakan besar dalam penerapan predictive maintenance atau pemeliharaan prediktif berbasis teknologi.
Adopsi sistem tersebut meningkat hampir dua kali lipat, dari 9 persen menjadi 16 persen.
Survei yang dilakukan oleh Censuswide itu melibatkan lebih dari 600 pengambil keputusan senior dan profesional pemeliharaan industri di Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.
Responden berasal dari berbagai sektor penting seperti makanan dan minuman, minyak dan gas, ilmu hayati, serta otomotif.













































Discussion about this post