Bagi Truss, Bitcoin bukan sekadar aset finansial.
Ia melihatnya sebagai bagian dari isu yang lebih luas terkait kontrol dan kemandirian ekonomi.
Menurutnya, sistem saat ini bergerak menuju kontrol yang semakin terpusat melalui regulasi dan pajak.
Ia berpendapat bahwa tren tersebut justru memperburuk kondisi ekonomi secara keseluruhan.
Truss menggambarkan ekonomi Inggris berada pada “lintasan yang sangat negatif.”
Ia menilai pertumbuhan yang lemah, meningkatnya kontrol negara, serta kebijakan moneter yang gagal mendorong negara menuju penurunan jangka panjang.
Ia juga memperingatkan bahwa masyarakat Inggris semakin miskin dengan cepat.
Tingginya pajak, regulasi, dan biaya energi disebut telah mengubah keseimbangan bagi pelaku usaha.
Menurutnya, risiko yang dihadapi kini tidak lagi sebanding dengan potensi keuntungan.
Kondisi ini, lanjutnya, menciptakan disinsentif untuk bekerja.
Aktivitas bisnis menjadi semakin sulit ketika biaya terus meningkat.
Momentum ekonomi pun terus melemah dalam situasi tersebut.
Truss juga menyinggung dampak mini-budget tahun 2022 yang dipimpin oleh Kwasi Kwarteng.
Ia tidak sepenuhnya menyalahkan kebijakan tersebut atas gejolak pasar.
Sebaliknya, ia menilai peristiwa itu mengungkap kelemahan yang sudah lama ada dalam sistem.
Strategi pensiun berbasis leverage, menurutnya, menunjukkan adanya risiko tersembunyi yang belum banyak dipahami.
Di luar pemerintahan, Truss kini fokus membangun gerakan politik baru.
Salah satu inisiatifnya adalah CPAC UK.
Acara ini merupakan konferensi selama tiga hari yang menargetkan aktivis, pengusaha, dan berbagai pihak yang ia sebut sebagai gerakan “kedaulatan dan kebebasan.”

















































Discussion about this post