Pendapatan negara tercatat tumbuh 21,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, belanja negara meningkat 18,2 persen dengan sasaran utama menjaga daya beli masyarakat, memperkuat kualitas pelayanan publik, serta mendorong aktivitas perekonomian.
Meskipun belanja mengalami peningkatan, defisit APBN tetap dapat dipertahankan pada level 0,91 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kondisi tersebut, menurut Prabowo, menunjukkan bahwa kebijakan yang berpihak kepada rakyat tidak harus bertentangan dengan prinsip disiplin dalam pengelolaan keuangan negara.
“Kita tidak memilih antara pertumbuhan dan kehati-hatian. Kita memilih kedua-duanya. Kita tidak memilih antara membantu rakyat dan menjaga APBN. Kita melakukan keduanya,” tegas Presiden.
Kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia juga tercermin dari penilaian lembaga pemeringkat internasional.
Presiden menyampaikan bahwa Standard & Poor’s (S&P) pada 13 Juli 2026 mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil.
Dengan keputusan tersebut, Indonesia tetap berada dalam kategori investment grade yang mencerminkan kepercayaan terhadap kemampuan ekonomi dan kebijakan makroekonomi nasional.
“S&P bahkan menilai Indonesia memiliki prospek pertumbuhan ekonomi yang kokoh, kebijakan makroekonomi yang secara umum berhati-hati, serta beban utang yang relatif prudent dan sustainable dibandingkan negara-negara setara,” ungkapnya.
Penilaian positif juga datang dari China Lianhe Rating yang memberikan peringkat AAA/Stable, atau level tertinggi, dalam penerbitan Panda Bonds untuk Republik Indonesia.

















































Discussion about this post