Karena itu, Prabowo mendorong penggunaan fakta, sains, dan matematika sebagai pijakan dalam memahami persoalan sekaligus merumuskan kebijakan dan solusi bagi berbagai tantangan nasional.
“Kalau kita mendekati dengan cara saintifik, cara rasional, jangan dengan cara lain daripada rasional ya. Nanti kita akan keliru, rasional, science, mathematics, reality. Reality is science, reality is mathematics. Ya kalau kita mendekati dengan pola lain itu sudah masuk ke ranah lain, fakta. Nah jadi kadang-kadang fakta menyakitkan,” kata Presiden.
Pertemuan Presiden dengan para periset BRIN tersebut sekaligus memperlihatkan upaya pemerintah memperkuat budaya pengambilan keputusan yang bertumpu pada bukti atau evidence-based policy.
Kehadiran para periset di Istana juga menjadi sinyal bahwa hasil penelitian dan inovasi nasional diharapkan tidak berhenti di laboratorium atau ruang akademik, tetapi dapat segera dikembangkan, diterapkan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dengan memperkuat hubungan antara pemerintah dan komunitas ilmiah, riset nasional diharapkan mampu menjadi salah satu mesin utama transformasi Indonesia menuju negara yang semakin maju, mandiri, inovatif, dan memiliki daya saing tinggi dalam menghadapi perubahan dunia.(*)














































Discussion about this post