Karena itu, Presiden menilai berbagai persoalan ekonomi yang selama ini terjadi tidak terlepas dari penyimpangan terhadap amanat konstitusi tersebut.
“Ini adalah cetak biru ekonomi kita, saudara-saudara sekalian. Manakala kita menyimpang cetak biru ini, ya jangan salahkan siapa-siapa, kecuali diri kita sendiri yang tidak mau menerima titipan amanah dari pendiri-pendiri bangsa kita,” kata Presiden.
Dalam pidatonya, Presiden juga menyoroti berbagai praktik penyimpangan ekonomi yang selama ini merugikan negara, mulai dari manipulasi ekspor, under invoicing, tambang ilegal, hingga pembalakan liar di kawasan hutan lindung.
Presiden mempertanyakan lemahnya penegakan hukum terhadap aktivitas ilegal yang berlangsung bertahun-tahun tanpa tindakan tegas.
“Bagaimana bisa ada orang yang tambang di hutan lindung bertahun-tahun dan tidak ada yang berani untuk menegakkan hukum,” tegas Presiden.
Menurut Presiden Prabowo, kebocoran ekonomi nasional yang terjadi selama ini sebenarnya dapat ditekan apabila seluruh elemen bangsa memiliki keberanian melakukan pembenahan secara serius dan menyeluruh.
Kepala Negara bahkan mengungkapkan bahwa potensi dana yang bisa diselamatkan dari kebocoran ekonomi diperkirakan mencapai 150 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun.
Namun demikian, Presiden menegaskan bahwa perubahan besar hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak mau bergerak bersama menghadapi berbagai persoalan bangsa.
“Kita harus bersama-sama berani mencari solusi dan berani bertindak,” ujar Presiden.


















































Discussion about this post