Di sisi lain, OJK juga terus melakukan berbagai langkah pembenahan untuk memperkuat transparansi dan meningkatkan keyakinan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Friderica menuturkan bahwa sejumlah perhatian investor global terkait keterbukaan data pasar modal telah direspons dengan berbagai kebijakan baru.
“Namun demikian, dapat kami sampaikan bahwa setelah market event, yaitu yang dicetuskan dari semenjak akhir Januari kemarin dari MSCI, dapat kami sampaikan bahwa seluruh hal-hal yang menjadi concern dari global investor terkait dengan transparansi dari pasar modal Indonesia, di mana data dari 1 persen pemegang saham sudah kita buka, kemudian granularity dari data dari 9 klasifikasi menjadi 39 sudah kita sampaikan, sudah sangat granular,” tuturnya.
Langkah lain yang dilakukan yakni membuka data ultimate beneficial owner serta memperkuat aturan terkait free float saham guna meningkatkan kualitas likuiditas pasar.
Menurut OJK, berbagai pembenahan tersebut mulai memperlihatkan dampak positif terhadap pola pergerakan pasar saham nasional.
Friderica menyebut bahwa pergerakan saham kini semakin mencerminkan kondisi fundamental perusahaan dibanding sekadar dipengaruhi spekulasi pasar jangka pendek.
“Jadi saham-saham yang sekarang pergerakannya sudah lebih ke fundamental, dan kalau kita melihat nanti mungkin pengumuman di Mei oleh MSCI, dan juga nanti di Juni untuk terkait market kita, mungkin kalau di Maret nanti akan ada rebalancing dari indeks MSCI kita, mungkin kita expect akan terjadi penyesuaian, namun kita sampaikan ini adalah dampak temporary dari perbaikan yang kita lakukan,” ungkapnya.

















































Discussion about this post