ISTANAGARUDA.COM – Dunia kripto kembali diguncang setelah salah satu tokoh kunci industri memperingatkan bahwa sebagian infrastruktur blockchain saat ini belum siap menghadapi era komputasi kuantum yang semakin dekat.
Salah satu pendiri Solana Labs, Anatoly Yakovenko, pada 2 Mei 2026 secara terbuka menyatakan bahwa solusi Layer 2 (L2) di jaringan Ethereum belum memiliki perlindungan terhadap ancaman komputasi kuantum.
Ia bahkan menyampaikan peringatan tajam kepada para pengguna dengan mengatakan agar mereka “meninggalkan semua harapan,” sebuah komentar yang langsung memicu perdebatan luas di komunitas kripto global.
Pernyataan tersebut muncul sebagai respons atas pembaruan dari pengembang yang menampilkan kemajuan Solana dalam teknologi kriptografi pasca-kuantum, termasuk integrasi sistem verifikasi Falcon-512 yang diklaim semakin matang untuk penggunaan produksi.
Dalam unggahan sebelumnya, Yakovenko juga menyinggung bahwa Solana berada di ambang melampaui para pesaingnya dalam hal kesiapan menghadapi era kuantum, bahkan menyebut jaringan tersebut akan segera “mengungguli secara kuantum” kompetitor lainnya.
Di sisi lain, kelemahan Ethereum L2 dinilai berasal dari ketergantungannya pada fondasi kriptografi yang sama dengan layer utama Ethereum.
Sebagian besar dompet pengguna masih menggunakan tanda tangan berbasis Elliptic Curve Digital Signature Algorithm (ECDSA) dengan kurva secp256k1, yang diketahui rentan terhadap serangan komputer kuantum di masa depan.
Masalah ini menjadi semakin serius karena kunci publik pengguna akan terekspos ke jaringan saat transaksi dilakukan, membuka peluang bagi skenario “kumpulkan sekarang, bongkar nanti.”
Dalam skenario tersebut, penyerang dapat menyimpan data transaksi saat ini dan menunggu hingga komputer kuantum cukup kuat untuk menjalankan Algoritma Shor guna membongkar kunci privat dan mencuri aset digital.
Selain itu, banyak rollup berbasis zkEVM seperti Arbitrum, Optimism, Base, dan zkSync masih mengandalkan bukti kriptografi zero-knowledge seperti Groth16 dan Plonk.
Teknologi ini menggunakan pasangan kurva eliptik yang secara teori juga dapat dilemahkan oleh komputer kuantum yang cukup kuat, membuka kemungkinan pemalsuan bukti, penarikan dana ilegal, atau pencetakan token tanpa izin.
Sementara itu, Solana justru tampil di garis depan dalam pengembangan blockchain tahan kuantum.
Implementasi Falcon-512 telah diterapkan pada klien Anza dan Firedancer, dengan peningkatan SIMD-0416 yang dirancang untuk memungkinkan verifikasi tahan kuantum secara langsung pada dompet dan kontrak pintar.
Proses adopsinya akan dilakukan bertahap, dimulai dari akun baru yang langsung menggunakan Falcon, sementara dompet lama berbasis Ed25519 akan bermigrasi secara perlahan tanpa perlu hard fork besar dalam waktu dekat.
Di kubu Ethereum, langkah menuju kesiapan kuantum juga mulai terlihat, dengan target pencapaian sekitar tahun 2029 melalui proyek Glamsterdam dan Hegotá.
Fokus utama diarahkan pada integrasi kriptografi pasca-kuantum sejak dini, sembari mengoordinasikan peningkatan besar di seluruh ekosistem L1 dan L2.
Adapun perkembangan di blockchain lain menunjukkan dinamika yang beragam.
Algorand tengah mengembangkan peta jalan migrasi Falcon, sementara Cardano fokus pada protokol pasca-kuantum berbasis riset akademis.
Di sisi lain, Bitcoin masih berada pada tahap awal penelitian tanpa rencana implementasi resmi.
Secara global, dorongan menuju keamanan kuantum juga semakin kuat melalui regulasi internasional.
Kelompok G7, Uni Eropa, dan Amerika Serikat telah mulai menetapkan kerangka kerja yang menargetkan tahap perencanaan pada 2026, migrasi infrastruktur antara 2030 hingga 2032, dan transisi penuh pada 2035.
Sementara itu, momen yang dikenal sebagai “Q-Day,” ketika komputer kuantum mampu memecahkan sistem kriptografi saat ini, diperkirakan bisa terjadi sekitar tahun 2029, menambah urgensi bagi seluruh ekosistem blockchain untuk segera beradaptasi.(*)


















































Discussion about this post