ISTANAGARUDA.COM – Di tengah perlombaan global membangun kecerdasan buatan berskala besar, SAS Institute justru mengambil langkah strategis dengan menghadirkan solusi AI khusus industri guna menjawab tantangan nyata di lapangan.
Perusahaan tersebut memperluas pengembangan AI accelerators.
Langkah ini menjadi bagian dari komitmen investasi senilai US$1 miliar sepanjang 2026.
Fokusnya adalah menghadirkan solusi untuk rantai pasok, sektor industri, dan pencegahan penipuan.
Fenomena perlombaan teknologi di Silicon Valley menunjukkan kesenjangan yang semakin lebar.
Banyak organisasi kesulitan mengubah AI umum menjadi hasil nyata dalam skala besar.
Masalah ini terutama terjadi pada kebutuhan spesifik di masing-masing industri.
Manisha Khanna menjelaskan tantangan tersebut secara langsung.
“Ketika organisasi dibiarkan merangkai sendiri kerangka kerja AI yang bersifat ad-hoc dan eksperimen, mereka sering gagal mencapai keunggulan kompetitif yang diharapkan dari investasi AI,” ujarnya.
Salah satu fokus utama SAS adalah perencanaan penjualan dan operasional.
Proses ini dikenal sebagai S&OP.
Selama ini, banyak perusahaan masih bergantung pada spreadsheet kompleks dan rapat panjang.
Akibatnya, banyak perusahaan hanya menjalankan proses ini sebulan sekali.
SAS menghadirkan solusi bernama Supply Chain Agent.
Teknologi ini mampu menyeimbangkan permintaan dan operasional secara hampir real-time.
Tim dapat mengoptimalkan inventaris, produksi, dan logistik secara dinamis.
Pengguna bisnis juga dapat berinteraksi melalui antarmuka chat.




















































Discussion about this post