Mereka dapat menguji berbagai skenario.
Contohnya dampak penurunan permintaan sebesar 15 persen.
Sistem kemudian memberikan rekomendasi tindakan.
Termasuk penjelasan bagaimana keputusan tersebut dihasilkan.
Kathy Lange menilai pendekatan ini sangat signifikan.
“Agent yang tersedia saat ini umumnya hanya menangani proses dasar; dengan Supply Chain Agent, SAS memampatkan proses yang sangat kompleks, yang berpotensi memberikan nilai besar. Penawaran ini memposisikan SAS untuk membawa keahlian rantai pasoknya yang telah lama dimiliki ke generasi baru solusi AI berbasis agen,” jelasnya.
Selain rantai pasok, SAS juga mengembangkan teknologi digital twins.
Teknologi ini dipadukan dengan data sintetis.
Tujuannya adalah meningkatkan efisiensi dan keselamatan kerja di lingkungan industri.
Dengan bantuan Unreal Engine, perusahaan menciptakan replika virtual pabrik.
Simulasi dapat dilakukan tanpa risiko terhadap aset fisik.
Teknologi ini diperkenalkan dalam ajang SAS Innovate 2025.
Melalui digital twins, tim dapat menguji berbagai skenario.
Mulai dari perubahan proses hingga tata letak peralatan.
Semuanya dilakukan sebelum diterapkan di dunia nyata.
Salah satu perusahaan sterilisasi alat medis telah memanfaatkannya.
Mereka menggunakan digital twin untuk mengidentifikasi hambatan operasional.
Hasilnya adalah peningkatan efisiensi layanan yang menyelamatkan nyawa.
SAS juga mengembangkan solusi keselamatan pekerja.
Teknologi ini menggunakan data sintetis untuk melatih model computer vision.
Model dilatih untuk mengenali kecelakaan langka namun realistis.




















































Discussion about this post