“Dari segi ekspor dan impor juga positif. Dari segi lapangan usaha, sektor industri, sektor perdagangan, sektor administrasi pemerintahan, jasa lainnya, dan juga transportasi pergudangan, pertanian dan konstruksi juga berjalan dengan baik,” lanjutnya.
Pemerintah juga mencatat berbagai indikator makroekonomi berada dalam kondisi terkendali.
Inflasi berhasil ditekan ke level 2,42 persen.
Angka tersebut turun dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai 3,48 persen pada Maret lalu.
“Kalau secara indikator makro, ini inflasi juga berhasil ditekan di 2,42 persen, turun dari 3,48 persen di periode yang lalu, di bulan Maret,” ujar Menko Airlangga.
Selain inflasi, pertumbuhan kredit nasional juga menunjukkan kinerja positif sebesar 9,49 persen.
Sementara dana pihak ketiga tumbuh hingga 13,55 persen yang disebut mencerminkan tingginya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan nasional.
“Kemudian credit growth di 9,49 persen, dana pihak ketiga berarti trust dari masyarakat tinggi 13,55 persen,” paparnya.
Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo turut menyoroti dinamika capital outflow atau aliran modal keluar yang terjadi di pasar keuangan global.
Pemerintah bersama otoritas terkait disebut telah melakukan kajian mendalam mengenai penyebab kondisi tersebut sekaligus menyiapkan langkah antisipasi.
Selain itu, pemerintah juga memperkuat koordinasi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan guna menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Penguatan koordinasi itu termasuk dalam pengelolaan nilai tukar rupiah agar tetap stabil menghadapi tekanan global.

















































Discussion about this post