ISTANAGARUDA.COM – Charles Hoskinson mengeluarkan peringatan serius bahwa perkembangan komputasi kuantum berpotensi menjadi ancaman besar bagi keamanan dan ketahanan Bitcoin dalam jangka panjang.
Ia menilai risiko tersebut bisa mulai nyata antara tahun 2029 hingga 2035.
Namun waktu pasti kemunculannya masih belum dapat dipastikan.
Hoskinson menyoroti kelemahan struktural pada format alamat Bitcoin generasi awal.
Ia menyebut sekitar 34% dari total suplai Bitcoin berada dalam kondisi rentan karena kunci publiknya telah terekspos.
Jumlah tersebut setara dengan hampir 8 juta Bitcoin.
Ia juga menegaskan bahwa koin-koin dari era awal sulit untuk dipindahkan ke sistem keamanan yang lebih modern.
Sekitar 1,7 juta Bitcoin termasuk dalam kategori ini.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1,1 juta Bitcoin dikaitkan dengan Satoshi Nakamoto.
Hoskinson menambahkan bahwa banyak dompet lama dibuat sebelum hadirnya sistem pemulihan modern seperti BIP-39.
Akibatnya, pemilik tidak dapat membuktikan kepemilikan menggunakan metode kriptografi saat ini.
Jika terjadi migrasi paksa ke sistem baru, dana tersebut berpotensi hilang secara permanen.
Ia menyatakan bahwa kondisi ini pada akhirnya dapat mengurangi suplai Bitcoin yang beredar di pasar.
Di sisi lain, solusi yang diusulkan juga tidak bebas dari masalah.
Hoskinson menjelaskan bahwa penerapan sistem tahan quantum kemungkinan besar membutuhkan hard fork.
Hal ini bertentangan dengan anggapan bahwa transisi bisa dilakukan secara lebih ringan.
Ia memperingatkan bahwa pembekuan dana yang tidak memenuhi standar baru dapat membuat pemilik kehilangan akses.
Kondisi ini berpotensi memicu konflik teknis sekaligus ideologis di komunitas Bitcoin.
Hoskinson juga mengkritik model tata kelola Bitcoin.
Ia menilai tidak adanya mekanisme pengambilan keputusan berbasis on-chain membuat respons terhadap ancaman sistemik menjadi lambat.
Sebagai perbandingan, ia menyinggung Cardano dan Ethereum.
Menurutnya, kedua jaringan tersebut memiliki sistem tata kelola yang lebih terstruktur.
Sistem tersebut memungkinkan pembaruan dilakukan secara terkoordinasi tanpa kebuntuan panjang.
Dampak dari ancaman ini tidak hanya bersifat teknis.
Hoskinson memperingatkan potensi guncangan pasar jika terjadi pelanggaran besar.
Masuknya dana hasil pembobolan ke dalam sirkulasi dapat menciptakan tekanan signifikan.
Ia memperkirakan bahwa bahkan pelanggaran sebagian saja bisa memengaruhi 8% hingga 10% dari total suplai Bitcoin.
Kondisi tersebut berisiko mengguncang harga dan menurunkan kepercayaan investor.
Selain itu, peran investor institusional juga diperkirakan akan semakin besar.
Pemegang aset dalam jumlah besar dapat mendorong keputusan yang lebih tegas untuk melindungi investasi mereka.
Perdebatan mengenai masa depan Bitcoin kini tidak hanya menyangkut teknologi.
Aspek ekonomi dan kepentingan pasar juga mulai memainkan peran penting dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.(*)














































Discussion about this post