Namun, Cheryl menilai pasar sedang menghadapi tantangan besar karena harga RAM terus meningkat sementara pasokan semakin sulit diperoleh.
Kondisi tersebut menyebabkan banyak organisasi mengalami hambatan dalam pengadaan perangkat, sekaligus meningkatkan biaya operasional pusat data.
Akibatnya, para pemimpin teknologi informasi dan pengadaan kini harus meninggalkan pendekatan lama terkait keseimbangan pasokan dan permintaan.
Sebagai gantinya, mereka perlu menerapkan strategi baru seperti perencanaan siklus hidup perangkat dan penyimpanan inventaris secara lebih terstruktur.
Cheryl mengungkapkan bahwa akar persoalan berasal dari melonjaknya kebutuhan AI yang membuat produsen lebih memprioritaskan segmen yang menawarkan keuntungan lebih besar.
Fenomena ini mendorong pergeseran kapasitas produksi dari DRAM konvensional menuju High Bandwidth Memory (HBM), jenis memori yang digunakan pada akselerator AI.
HBM membutuhkan hampir tiga kali lebih banyak kapasitas wafer dibandingkan DDR5, sehingga memperparah kelangkaan pasokan DRAM tradisional.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar produksi DRAM global saat ini dikendalikan oleh tiga perusahaan besar, yaitu SK hynix, Micron, dan Samsung.
Perusahaan-perusahaan tersebut memproduksi wafer memori yang kemudian diolah menjadi berbagai produk SDRAM untuk kebutuhan server, produsen perangkat, dan perusahaan hyperscaler.
Pengalihan kapasitas wafer ke kebutuhan AI secara langsung mengurangi ketersediaan DRAM tradisional yang digunakan pada modul memori server.
















































Discussion about this post