Dengan tingkat degradasi tersebut, baterai EV diperkirakan mampu bertahan setidaknya selama 20 tahun atau menempuh jarak sekitar 200.000 mil.
Bahkan beberapa estimasi menyebut baterai Tesla dapat bertahan hingga 300.000 sampai 500.000 mil tergantung pola penggunaan dan kebiasaan pengisian daya.
Jika teknologi AI terbaru ini benar-benar mampu meningkatkan usia baterai sebesar 23 persen, maka kendaraan listrik berpotensi memperoleh tambahan jarak tempuh sekitar 70.000 mil hingga lebih dari 100.000 mil.
Bagi pengguna kendaraan listrik, peningkatan tersebut berarti mobil dapat digunakan lebih lama dengan performa baterai yang tetap optimal.
Para peneliti menjelaskan bahwa peningkatan usia baterai dihitung berdasarkan jumlah siklus pengisian dan pengosongan daya yang mampu ditangani kendaraan listrik.
Penulis penelitian itu mengatakan, “Pendekatan yang diusulkan mempertahankan efisiensi pengisian daya yang sebanding sambil secara signifikan memperpanjang usia baterai, menunjukkan bahwa peningkatan usia pakai dapat dicapai tanpa mengorbankan kecepatan pengisian.”
Menurut data Federal Highway Administration, rata-rata warga Amerika Serikat mengemudi sekitar 13.476 mil setiap tahun.
Bagi pengguna yang sering mengandalkan fast charging, teknologi pengisian berbasis AI ini berpotensi membuat kendaraan listrik mereka bertahan beberapa tahun lebih lama.
Meski demikian, penelitian tersebut masih dilakukan di laboratorium dan belum diuji langsung pada baterai kendaraan dalam kondisi nyata di jalan raya.
















































Discussion about this post