Kerangka berpikir tersebut juga menjadi dasar bagi Prabowo dalam melihat posisi BRICS di tengah perubahan tata ekonomi dunia.
Indonesia dan banyak negara Global South menghadapi persoalan yang memiliki karakteristik serupa, sehingga kerja sama menjadi semakin penting untuk memperbesar kemampuan menghadapi tekanan global.
Presiden mendorong negara-negara BRICS menyatukan sumber daya, kapasitas produksi, teknologi, dan pasar yang dimiliki agar kekuatan tersebut dapat menghasilkan dampak yang lebih besar.
“Ketika kita menghadapi tantangan-tantangan ini secara bersama-sama, kita juga menyatukan sumber daya, kapasitas produktif, kemampuan teknologi, dan pasar dalam jumlah yang sangat besar. Satukan semuanya, dan BRICS dapat memberikan perbedaan yang nyata dan penting bagi dunia. Oleh karena itu, langkah pertama adalah mengakui nilai dari apa yang kita miliki dan menggunakan kekuatan ini untuk saling membantu,” pungkas Presiden Prabowo.
Di sisi lain, Prabowo menilai BRICS memiliki tanggung jawab lebih luas dalam memperkuat suara negara-negara Global South atau negara-negara berkembang dalam tata kelola internasional.
Menurutnya, negara berkembang tidak cukup hanya menjadi objek dari keputusan global, tetapi harus memiliki ruang lebih besar untuk ikut menentukan arah pembangunan dan aturan internasional.
Prabowo mengingatkan bahwa dunia dalam beberapa tahun mendatang akan mendekati 2030, batas waktu yang ditetapkan untuk pencapaian Agenda 2030 dan Sustainable Development Goals (SDGs).
Agenda tersebut memuat berbagai komitmen global, termasuk upaya menghapus kemiskinan, melindungi lingkungan, serta memperkuat institusi demi menciptakan pembangunan yang lebih berkelanjutan.



















































Discussion about this post