Namun, di balik kondisi geografis tersebut, Indonesia memiliki kekayaan alam yang menurut Prabowo dapat menjadi fondasi penting untuk membangun masa depan.
“Daratan dan lautan kita juga menyimpan banyak hal yang akan menjadi landasan bagi masa depan. Mineral kritis, tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan yang bernapas bagi dunia. Hal yang sama juga berlaku di seluruh BRICS,” imbuh Presiden Prabowo.
Potensi tersebut, lanjut Presiden, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kekayaan yang dimiliki masing-masing negara secara terpisah.
Jika dikelola melalui kerja sama, berbagai sumber daya tersebut dapat menjadi basis kekuatan ekonomi kolektif yang jauh lebih besar.
Prabowo melihat negara-negara BRICS memiliki posisi strategis karena secara bersama-sama memiliki sumber daya mineral kritis dan energi dalam jumlah signifikan.
Kekuatan itu dapat menjadi salah satu fondasi penting untuk memasuki apa yang disebutnya sebagai abad hijau, ketika kebutuhan terhadap teknologi bersih dan sumber energi berkelanjutan semakin meningkat.
“Kita memiliki segala sesuatu yang menjadi landasan bagi abad hijau. Itulah sebabnya, ketika bencana melanda, kita harus melihatnya sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar bencana. Kita harus melihat keterkaitan erat antara ketahanan terhadap perubahan iklim dan pembangunan nasional,” ucap Kepala Negara.
Bagi Prabowo, ketahanan terhadap perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional.
Krisis yang muncul akibat perubahan iklim justru harus mendorong negara untuk memperkuat infrastruktur, meningkatkan kemampuan produksi, mengembangkan teknologi, dan membangun ekonomi yang lebih mampu menghadapi guncangan.



















































Discussion about this post