“Komitmen ini tetap teguh. Kita harus terus melangkah melampaui tahun 2030,” ujarnya.
Bagi Presiden, pencapaian Agenda 2030 tidak seharusnya menjadi garis akhir, melainkan pijakan untuk menyusun arah pembangunan dunia setelah tahun tersebut.
Agenda global juga harus mampu memastikan negara-negara berkembang memperoleh posisi yang lebih proporsional dalam menentukan masa depan dunia.
“Agenda ini bertujuan membawa negara-negara berkembang ke posisi yang semestinya, mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan bagi rakyat kita, serta memberikan peran yang lebih besar bagi negara-negara berkembang dalam membentuk tatanan global,” kata Presiden.
Karena itu, Prabowo menilai penguatan suara Global South menjadi bagian penting dari perubahan tata kelola internasional yang lebih inklusif.
“Oleh karena itu, sudah sewajarnya suara negara-negara Global South didengar, tidak hanya dalam mempercepat pelaksanaan agenda 2030, tetapi juga dalam menentukan arah masa depan setelahnya,” tandasnya.
Pesan Prabowo tersebut memperlihatkan bagaimana Indonesia ingin menggunakan BRICS bukan sekadar sebagai forum kerja sama ekonomi, tetapi juga sebagai wadah untuk memperkuat kapasitas negara berkembang dalam menghadapi perubahan dunia.
Ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan pada akhirnya dipandang bukan sebagai agenda yang berdiri sendiri, melainkan empat unsur yang dapat saling memperkuat.
Jika sumber daya dan kemampuan produksi dapat dihubungkan, kerentanan dapat diubah menjadi kapasitas, sementara kapasitas tersebut dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan manfaat lebih luas.



















































Discussion about this post