BMKG juga mencatat perubahan arah angin menjadi perkembangan yang cukup positif dalam penanganan sebaran abu vulkanik.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa pada sejumlah lapisan atmosfer, angin kini bergerak menuju barat, barat laut, dan barat daya sehingga tidak lagi dominan mengarah ke tenggara seperti sebelumnya.
Perubahan pola angin tersebut diperkirakan dapat membantu mengurangi risiko penyebaran abu ke wilayah tertentu, terutama apabila didukung kondisi cuaca yang sesuai.
BMKG memprakirakan peluang munculnya awan serta hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada 9 hingga 12 September 2026 di wilayah yang terdampak erupsi.
Peluang hujan tersebut akan diperkuat melalui operasi modifikasi cuaca atau OMC yang disiapkan bersama BNPB.
“Kami sudah memantau bahwa kira-kira di tanggal 9 hingga 12 September 2026 ini akan ada potensi awan dan juga hujan dengan intensitas ringan hingga sedang, khususnya di wilayah terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau. Untuk itu nanti akan kami pertebal dengan OMC bersama dengan BNPB,” ujar Kepala BMKG.
OMC akan dilaksanakan dari sejumlah lokasi yang telah disiapkan, termasuk Pondok Cabe dan Kertajati, sementara Semarang disiapkan sebagai titik alternatif apabila kondisi penerbangan di sekitar Selat Sunda belum memungkinkan.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan strategi untuk memastikan arus penumpang tetap berjalan apabila sebagian penerbangan harus dialihkan.
Sejumlah bandara alternatif telah disiapkan, antara lain Kertajati, Juanda, Ahmad Yani, Adi Sumarmo, dan Yogyakarta.

















































Discussion about this post