Delapan bandara yang sebelumnya ditutup adalah Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten, Budiarto, Husein Sastranegara, Taufiq Kemas, Pondok Cabe, serta Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam.
Namun, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa Bandara Atung Bungsu telah kembali dibuka setelah evaluasi menunjukkan wilayah tersebut tidak lagi terdampak abu vulkanik.
“Semula kami telah menutup operasional sementara 8 bandara yang terdampak, yaitu Soekarno Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten, Budiarto, Husein Sastranegara, Taufiq Kemas, Pondok Cabe, dan Bandara Atungbungsu, Pagar Alam. Namun per pagi ini kami telah membuka kembali Bandara Atung Bungsu, Pagar Alam, Bapak Presiden. Karena dari hasil evaluasi kami bahwa Atung Bungsu sudah tidak terdampak lagi dengan abu vulkanik,” ucap Dudy.
Pemerintah tidak hanya mengandalkan pemantauan visual untuk menentukan keamanan operasional bandara, tetapi juga melakukan pengujian secara berkala terhadap keberadaan abu vulkanik di permukaan fasilitas penerbangan.
Koordinasi dilakukan bersama BMKG dan Volcanic Ash Advisory Center atau VAAC Darwin, Australia, yang berperan dalam pemantauan abu vulkanik untuk kepentingan keselamatan penerbangan.
Salah satu metode pemeriksaan dilakukan melalui paper test di sejumlah bandara yang terdampak.
Hasil pengujian di Bandara Soekarno-Hatta bahkan telah menunjukkan kondisi negatif selama empat kali pemeriksaan berturut-turut.
“Dapat kami laporkan bahwa Bandara Soekarno Hatta sudah kami lakukan sebanyak empat kali pengetesan atau paper test, dan kami temukan hasilnya negatif. Namun demikian, kami tidak langsung serta-merta kami buka pada saat ini Bapak Presiden, karena kami ingin memastikan betul mengingat bahwa sebagaimana kemarin terjadi perubahan dari angin,” jelasnya.

















































Discussion about this post