ISTANAGARUDA.COM – Ketidakpastian baru mengguncang Binance saat pejabat kunci di bidang kepatuhan dikabarkan mempertimbangkan hengkang di tengah tekanan regulasi yang belum mereda.
Bursa kripto terbesar di dunia tersebut menghadapi dinamika internal yang signifikan.
Kepala kepatuhan globalnya, Noah Perlman, dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk meninggalkan perusahaan pada akhir tahun ini.
Situasi ini terjadi ketika Binance tengah melobi otoritas Amerika Serikat.
Perusahaan meminta agar pengawas independen anti pencucian uang atau AML dihapus.
Binance berargumen bahwa risiko kepatuhan telah menurun.
Selain itu, perusahaan juga mengklaim kerja sama dengan aparat penegak hukum meningkat secara signifikan.
Masuknya Perlman pada Januari 2023 sebelumnya bertujuan memperkuat pengawasan sanksi dan kontrol anti pencucian uang.
Langkah tersebut diambil setelah Binance mengakui pelanggaran terhadap regulasi di Amerika Serikat.
Kini, potensi kepergiannya memunculkan pertanyaan serius terkait stabilitas sistem kepatuhan internal perusahaan.
Laporan dari Bloomberg juga menyoroti adanya perubahan personel di tim pemantauan kejahatan keuangan dan penegakan sanksi.
Tim-tim ini memainkan peran penting dalam pelaksanaan kesepakatan hukum senilai $4,3 miliar.
Kesepakatan tersebut mencakup penyitaan sebesar $2,5 miliar dan denda pidana sebesar $1,8 miliar.
Meski demikian, Binance menyatakan bahwa belum ada tanggal pasti terkait kepergian Perlman.
Perusahaan menegaskan bahwa ia masih berkomitmen terhadap upaya kepatuhan yang sedang berjalan.
Di sisi lain, Binance mengklaim telah melakukan peningkatan signifikan dalam sistem kepatuhannya.
Jumlah staf kepatuhan disebut meningkat lebih dari 30%.
Paparan terhadap aktivitas ilegal juga diklaim turun hingga 96% dalam periode Januari 2023 hingga Juni 2025.
“Penurunan 96% dalam paparan aktivitas ilegal adalah bukti dari infrastruktur kami dan lebih dari 1.500 profesional yang bekerja di balik layar untuk melindungi 300 juta pengguna kami,” kata Perlman pada Maret.
Namun, temuan investigasi oleh Financial Times menunjukkan adanya celah.
Beberapa akun mencurigakan yang terkait pendanaan ilegal dilaporkan masih beroperasi meski sistem pemantauan telah ditingkatkan.
Bahkan, ratusan juta dolar dalam transaksi mencurigakan disebut masih mengalir melalui platform Binance setelah kesepakatan hukum tersebut.
Temuan ini memunculkan keraguan baru terhadap efektivitas sistem kepatuhan perusahaan.
Apalagi, perubahan kepemimpinan sedang berlangsung.
Binance juga terus menekan regulator Amerika Serikat untuk mencabut pengawasan independen.
Perusahaan menyebut paparan terhadap pelanggaran sanksi telah turun dari 0,284% pada Januari 2024 menjadi hanya 0,009% pada Juli 2025.
Selain itu, lebih dari 71.000 permintaan dari aparat penegak hukum telah ditangani.
Upaya tersebut diklaim berhasil membantu penyitaan dana sebesar $131 juta yang terkait aktivitas ilegal.
Meski demikian, ketidakpastian tetap membayangi.
Dengan potensi hengkangnya Perlman dan perubahan staf yang terus terjadi, belum ada jaminan bahwa perbaikan ini dapat dipertahankan dalam jangka panjang.
Regulator dan investor kini memantau situasi ini dengan cermat.
Mereka menunggu apakah Binance mampu menjaga standar kepatuhan di tengah tekanan yang terus meningkat.(*)

















































Discussion about this post