ISTANAGARUDA.COM – Lonjakan dramatis jumlah uang beredar di Amerika Serikat memicu kekhawatiran baru soal inflasi sekaligus memperkuat narasi Bitcoin sebagai aset lindung nilai jangka panjang.
Data terbaru menunjukkan bahwa jumlah uang beredar M2 di Amerika Serikat telah mencapai $22.667,3 miliar.
Angka tersebut menjadi level tertinggi sepanjang sejarah ekonomi negara tersebut.
Bagi sebagian besar masyarakat, angka ini mungkin terasa abstrak dan sulit dipahami.
Namun dampaknya nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya sewa, hingga melemahnya daya beli gaji menjadi konsekuensi langsung dari fenomena ini.
M2 sendiri mencakup uang tunai, simpanan giro, serta berbagai instrumen likuid lainnya dalam sistem keuangan.
Pada masa krisis finansial 2008, jumlah M2 masih berada di kisaran $7,5 triliun.
Sejak saat itu, nilainya hampir meningkat tiga kali lipat.
Peningkatan ini terjadi seiring langkah pemerintah dan bank sentral yang menyuntikkan likuiditas besar-besaran untuk menopang ekonomi saat krisis.
Dalam periode tersebut, dolar AS kehilangan sekitar 38% daya belinya.
Kebijakan stimulus berulang, penurunan suku bunga, serta pencetakan uang menjadi faktor utama di balik pelemahan tersebut.
Situasi global yang memanas kini turut memperparah tekanan ekonomi.
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mendorong lonjakan harga minyak hingga sekitar 40%.
Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya energi dan berpotensi memicu inflasi lebih lanjut.
Pertumbuhan pesat jumlah uang beredar juga meningkatkan tekanan terhadap kebijakan suku bunga.
Jika ekspansi uang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ekonomi, risiko inflasi akan semakin besar.
Kondisi ini dapat membuat investor lebih berhati-hati dalam mengambil risiko.
Selain itu, suku bunga berpotensi tetap tinggi lebih lama.
Lonjakan M2 belakangan ini mengindikasikan tekanan inflasi bisa terus meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Hal tersebut berpotensi menghambat rencana pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Sebelumnya, Donald Trump sempat mendorong agar suku bunga diturunkan hingga 1%.
Di sisi lain, utang publik Amerika Serikat juga terus melonjak.
Per April 2026, total utang telah melampaui $39 triliun.
Angka ini meningkat sekitar 120% dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam konteks ini, Bitcoin semakin menarik perhatian.
Peningkatan jumlah uang beredar biasanya menciptakan kondisi likuiditas yang longgar.
Situasi tersebut mendorong investor mencari aset berisiko lebih tinggi seperti Bitcoin.
Selain itu, kekhawatiran terhadap penurunan nilai mata uang fiat juga semakin meningkat.
Beberapa perusahaan mulai mengadopsi strategi menyimpan Bitcoin sebagai cadangan keuangan.
Mereka melihat batas suplai Bitcoin yang hanya 21 juta koin sebagai perlindungan terhadap inflasi.
Bagi kalangan ini, pertumbuhan M2 justru memperkuat alasan untuk memegang aset kripto tersebut dalam jangka panjang.
Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di kisaran $70.000.
Kapitalisasi pasarnya berada di sekitar $1,4 triliun.(*)
















































Discussion about this post