Presiden Prabowo, menurut Arif, meminta agar pengembangan vaksin tersebut berjalan lebih cepat sehingga Indonesia dapat segera memperoleh manfaat dari hasil penelitian nasional.
“Bapak Presiden minta agar proses riset terkait dengan vaksin ini dipercepat. Dan kita berharap dengan support dari Bapak Presiden terkait dengan vaksin ini, ini bisa kita percepat tiga tahun lebih cepat dari seharusnya karena beliau akan memberikan dukungan penuh terhadap produksi vaksin ini, khususnya vaksin malaria,” ujar Arif.
Pengembangan vaksin tersebut juga berpotensi memberikan kontribusi bagi upaya kesehatan global, terutama dalam menghadapi parasit malaria yang belum memiliki vaksin, seperti Plasmodium vivax.
Selain penelitian vaksin, BRIN turut mengembangkan kandidat obat herbal untuk memperkuat kemampuan Indonesia dalam menghasilkan produk obat berbasis sumber daya dan penelitian dalam negeri.
Arif menyebutkan bahwa BRIN memiliki 19 kandidat obat herbal yang sedang diarahkan untuk mencapai kategori fitofarmaka.
Sebelumnya, sejumlah obat tersebut masih berada pada tahap Obat Herbal Terstandarisasi (OHT), sehingga pengembangan lebih lanjut diperlukan agar dapat mencapai tingkat pembuktian dan pengembangan yang sesuai untuk fitofarmaka.
“Saat ini di BRIN sendiri ada 19 kandidat obat herbal untuk masuk pada fitofarmaka. Jadi beberapa obat yang ada di BRIN kan masih dalam taraf OHT, Obat Herbal Terstandarisasi. Sekarang ingin menuju pada fitofarmaka,” ucapnya.
Persoalan sampah juga menjadi bagian penting dalam pembahasan antara Presiden dan Kepala BRIN.

















































Discussion about this post