Namun, upaya BRIN tidak hanya berfokus pada penanggulangan jangka pendek.
Lembaga tersebut juga mengembangkan penelitian jangka menengah dan panjang, termasuk mempelajari pola perambatan api untuk meningkatkan kemampuan mengantisipasi karhutla secara lebih dini.
“Bapak Presiden juga menekankan pentingnya riset jangka menengah, kemudian riset jangka panjang bagaimana mengantisipasi di masa depan, termasuk di dalamnya adalah mencari model-model perambatan api itu seperti apa sebenarnya sehingga kita bisa mengantisipasi di kemudian hari,” tuturnya.
Di sektor energi, BRIN mengidentifikasi peluang besar untuk mengubah limbah industri kelapa sawit menjadi sumber energi alternatif yang dapat membantu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar.
Arif menjelaskan bahwa limbah cair pengolahan kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME), bersama tandan kosong sawit, berpotensi dikonversi menjadi energi listrik dengan kapasitas sekitar 3,9 gigawatt.
Potensi tersebut dinilai penting karena pemanfaatan limbah sawit dapat membuka peluang pengembangan biogas sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.
“Jadi saat ini kita mengimpor LPG kurang lebih 97 triliun per tahun dengan adanya biogas yang bisa dikonversi menjadi gas tabung, saya kira ini akan menjadi salah satu solusi energi kita ke depan,” ucap Arif.
Perhatian Presiden juga tertuju pada pengembangan vaksin malaria yang tengah diteliti BRIN.
Arif melaporkan bahwa saat ini terdapat empat kandidat vaksin malaria yang sedang dikembangkan, dengan harapan proses penelitian dapat dipercepat melalui dukungan pemerintah.

















































Discussion about this post