Sasaran inflasi tersebut menjadi salah satu acuan penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mengingat perubahan harga bahan pangan dapat langsung memengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Selain persoalan harga pangan, rapat di Istana Merdeka juga membahas tekanan terhadap rupiah akibat perkembangan pasar keuangan internasional.
Destry menyebut, suku bunga global yang bertahan tinggi lebih lama atau higher for longer, ditambah inflasi di sejumlah negara maju yang masih melampaui target, menjadi tantangan bagi mata uang negara berkembang.
Situasi tersebut turut memengaruhi pergerakan rupiah, sebagaimana dialami sejumlah negara lain di kelompok pasar berkembang atau emerging markets.
“Tapi so far, 2 hari ini rupiah bisa kami jaga stabilitasnya sehingga terjadi memang pelambatan, sedikit pelambatan dan itu juga sesuai dengan beberapa negara di emerging market. Intinya Bank Indonesia akan selalu tetap berjaga di pasar,” ucap Destry.
Untuk menjaga pergerakan rupiah tetap stabil, Bank Indonesia memastikan akan terus memantau pasar dan menyesuaikan penggunaan instrumen kebijakan sesuai perkembangan yang terjadi.
Presiden Prabowo, menurut Destry, juga meminta agar berbagai pilihan kebijakan yang dimiliki Bank Indonesia terus dievaluasi dan dioptimalkan untuk menghadapi tekanan eksternal.
Instrumen yang disiapkan mencakup intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta Non-Deliverable Forward (NDF).
Selain itu, Bank Indonesia juga memberikan insentif biaya lindung nilai atau hedging untuk mendukung kebutuhan pelaku pasar dalam mengelola risiko perubahan nilai tukar.

















































Discussion about this post