Kemandirian tersebut juga menjadi modal bagi Indonesia untuk meningkatkan perannya dalam percaturan internasional tanpa kehilangan kemampuan menentukan arah sendiri.
Bagi Prabowo, ketahanan nasional pada akhirnya bukan sekadar persoalan bertahan menghadapi tekanan dari luar.
Ketahanan juga berkaitan dengan kemampuan sebuah bangsa membangun kapasitasnya sendiri sehingga kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi sekaligus membuka peluang untuk berkontribusi lebih besar kepada dunia.
Pesan kedua yang dibawa Presiden menyangkut pentingnya memperkuat solidaritas negara-negara Global South atau negara-negara berkembang.
Dalam konteks ini, Prabowo kembali mengingatkan semangat persatuan yang telah menjadi bagian penting dari sejarah diplomasi Indonesia.
“Mengutip pepatah ‘Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’, Presiden mengingatkan kembali pentingnya spirit Konferensi Asia-Afrika. Negara-negara Global South kini berdiri setara untuk memperjuangkan kepentingan dan masa depannya sendiri,” ungkap Seskab Teddy.
Semangat tersebut memiliki relevansi kuat di tengah perubahan keseimbangan kekuatan ekonomi dan geopolitik dunia.
Negara-negara berkembang kini memiliki sumber daya, pasar, jumlah penduduk, serta potensi ekonomi yang besar sehingga memiliki kepentingan untuk ikut menentukan aturan dan arah perkembangan global.
Dalam pandangan Indonesia, persatuan Global South dapat memperkuat posisi negara-negara berkembang ketika menyuarakan kepentingan mereka dalam berbagai forum internasional.
Pesan ketiga Prabowo berkaitan dengan bagaimana BRICS harus mengubah besarnya potensi kolektif menjadi kerja sama yang menghasilkan manfaat konkret.



















































Discussion about this post