Dengan kualitas buku yang lebih baik, materi pembelajaran diharapkan tidak hanya lebih mudah dipahami siswa, tetapi juga dapat digunakan secara berkelanjutan sehingga memberikan nilai tambah bagi ekosistem pendidikan.
Di sisi lain, pemerintah juga ingin menghidupkan kembali kebiasaan membaca sebagai bagian dari pembentukan karakter dan peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik.
Menteri Pras mengungkapkan bahwa perhatian Presiden Prabowo terhadap budaya membaca juga dipengaruhi oleh pola pendidikan yang diterimanya sejak kecil di lingkungan keluarga.
Menurutnya, kebiasaan membaca secara rutin yang disertai kewajiban membuat rangkuman merupakan salah satu metode pendidikan yang dapat kembali diterapkan untuk menumbuhkan kegemaran membaca di kalangan generasi muda.
“Sejak usia belia, keluarga Pak Mitro selalu mewajibkan putra-putrinya untuk setiap minggu membaca sekian buku, kemudian membuat rangkuman dan disampaikan kepada orang tua. Itu adalah juga cara mendidik yang kami juga sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dikdasmen untuk itu juga mulai kita galakan lagi, mulai kita giatkan lagi, gemar membaca buku dan wajib membaca buku bagi kita semua,” ujar Menteri Pras.
Pembenahan buku ajar dan penguatan budaya membaca tersebut pada akhirnya diarahkan untuk membangun fondasi sumber daya manusia yang lebih kuat.
Pendidikan yang ditopang buku berkualitas, kemampuan sains dan teknologi, penguasaan bahasa asing, serta kebiasaan membaca diharapkan mampu mempersiapkan generasi Indonesia menghadapi persaingan global sekaligus mendukung pencapaian visi Indonesia maju.(*)














































Discussion about this post