“Awalnya yang punya kita dulu, dicek dulu semuanya, beliau lihat satu-satu. Kemudian coba dibandingkan ke negara tetangga. Pada awalnya seperti itu, sehingga yang tadi Pak Mensesneg sampaikan, dicek, nanti intinya akan diperbaiki menjadi lebih baik,” ungkap Seskab Teddy.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa pembenahan buku ajar merupakan bagian dari perhatian Presiden terhadap sejumlah fondasi penting pendidikan nasional.
Salah satu fokusnya adalah memperkuat karakter kebangsaan sekaligus mengejar ketertinggalan Indonesia dalam bidang sains dan teknologi.
Matematika menjadi salah satu kemampuan dasar yang mendapat perhatian karena penguasaan bidang tersebut dinilai penting untuk membangun kapasitas generasi muda menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Kedua, mengejar ketertinggalan di bidang sains dan teknologi, basic-nya adalah salah satu contohnya adalah matematika. Yang ketiga, untuk menghadapi kompetisi global, salah satu concern beliau adalah kemampuan bahasa asing, salah satunya adalah bahasa Inggris,” kata Menteri Pras.
Perhatian Presiden tidak berhenti pada isi materi pelajaran.
Aspek fisik buku juga menjadi bagian yang ingin diperbaiki agar buku lebih nyaman digunakan sekaligus memiliki usia pemakaian yang lebih panjang.
Pemerintah diarahkan untuk menghadirkan buku dengan desain yang lebih menarik, ukuran huruf yang mudah dibaca, serta material yang memiliki kualitas lebih baik.
“Kalau tampilan tadi sudah kami jelaskan, penginnya besar, menarik, tulisan tidak kecil-kecil, bahannya pun juga yang bagus supaya itu bisa bertahan dalam sekian waktu. Mungkin kadang-kadang, dulu kan ada yang buku ini tidak dimiliki pribadi dan kemudian bisa diwariskan atau dipakai oleh adik kelasnya,” jelasnya.














































Discussion about this post