“Kami sangat senang dapat bergabung dengan lebih dari 45 pemimpin di bidangnya masing-masing untuk memajukan penemuan material,” tambah Edwards.
Kemampuan AI CuspAI sebelumnya telah diuji dalam proyek bersama perusahaan kimia asal Finlandia, Kemira.
Dalam proyek tersebut, CuspAI mampu menyaring ruang pencarian yang mencakup sekitar 300 triliun kemungkinan struktur molekul.
Dari proses itu, sistem berhasil menghasilkan 20 kandidat material baru yang telah divalidasi untuk menjalani pengujian dan proses validasi lanjutan.
Pencapaian tersebut menjadi penting karena proses serupa sebelumnya membutuhkan waktu bertahun-tahun bagi pelanggan.
Dengan pendekatan yang dikembangkan CuspAI, program tersebut dapat diselesaikan hanya dalam waktu enam bulan.
Salah satu proyek yang kini berjalan melalui Foundry merupakan kerja sama multi-tahun antara CuspAI dan Agency for Science, Technology and Research atau A*STAR, lembaga penelitian dan pengembangan sektor publik utama Singapura.
Kolaborasi tersebut akan menggabungkan kemampuan penemuan berbasis AI dengan teknologi sintesis otonom.
Riset bersama itu akan diarahkan pada sejumlah bidang strategis, termasuk semikonduktor, penangkapan karbon, serta teknologi elektronik canggih.
CuspAI sendiri didirikan pada 2024 oleh Dr Chad Edwards dan Profesor Max Welling dengan ambisi membangun sistem AI khusus untuk mempercepat penemuan material.
Tim dan arsitektur ilmiah perusahaan tersebut dikembangkan secara khusus untuk menangani tantangan kompleks dalam proses menemukan material baru.














































Discussion about this post