Kamera ini juga dibekali fitur Auto Tracing White Balance yang memanfaatkan data dari sensor cahaya tampak dan sensor inframerah sehingga reproduksi warna menjadi lebih konsisten pada berbagai kondisi pencahayaan.
Sony turut memberikan kebebasan bagi pengguna profesional dengan menyediakan opsi untuk menonaktifkan pengurangan noise (noise reduction) di dalam kamera.
Selain itu tersedia pula fitur de-squeeze untuk penggunaan lensa anamorfik, meski saat fitur tersebut aktif kemampuan autofokus akan dinonaktifkan.
FX5 menggunakan layar sentuh 3,5 inci beresolusi 2,76 juta titik yang dapat diputar ke berbagai arah sehingga lebih fleksibel dibandingkan layar milik FX3.
Untuk menjaga suhu tetap stabil saat merekam dalam waktu lama, Sony menyematkan kipas pendingin internal.
Kamera ini juga menggunakan baterai NP-SA100 berkapasitas lebih besar.
Dari sisi konektivitas, FX5 menawarkan dua port USB yang dapat digunakan untuk daya maupun transfer data, serta dilengkapi port LAN kabel untuk kebutuhan produksi profesional.
Sony juga memperbarui antarmuka kamera dengan sistem menu yang diadopsi dari lini kamera sinema kelas atas CineAlta sehingga pengoperasiannya menjadi lebih familiar bagi kalangan profesional.
FX5 tidak dibekali jendela bidik elektronik (electronic viewfinder) bawaan.
Sebagai gantinya, Sony memperkenalkan DVF-EL1, viewfinder yang dapat dipasang dan dilepas sesuai kebutuhan pengguna.
Perusahaan juga menyediakan pegangan XLR-H2 bagi kreator yang membutuhkan dukungan perekaman audio profesional.













































Discussion about this post