Perlindungan Hak Cipta dan Etika Jadi Prioritas
Di tengah meningkatnya kemampuan AI dalam bidang seni dan kreativitas, isu etika serta perlindungan terhadap para seniman menjadi perhatian utama.
Google DeepMind menegaskan bahwa Lyria 3 tidak dibuat untuk menggantikan musisi manusia, melainkan untuk mendukung dan memperluas kreativitas mereka.
Dalam proses pengembangannya, perusahaan bekerja sama dengan sejumlah figur industri musik, termasuk Wyclef Jean dan produser inovatif Yung Spielburg.
Kolaborasi tersebut dilakukan melalui program seperti Music AI Sandbox untuk membantu membangun batasan dan pedoman penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Sebagai lapisan keamanan tambahan, setiap lagu yang dihasilkan Lyria 3 dibekali teknologi watermark digital bernama SynthID.
Watermark ini tidak dapat didengar oleh manusia, tetapi memungkinkan identifikasi apakah sebuah lagu dibuat menggunakan AI Google, bahkan setelah file audio mengalami pengeditan, kompresi, atau direkam ulang.
Joël dan Myriam menjelaskan bahwa pengguna juga dapat mengunggah kembali file audio ke Gemini untuk memeriksa apakah lagu tersebut mengandung tanda SynthID yang menunjukkan keterlibatan AI Google dalam proses pembuatannya.
Selain itu, sistem telah dirancang untuk menghindari peniruan langsung terhadap artis tertentu.
Jika pengguna menyebut nama penyanyi terkenal dalam perintahnya, AI akan memperlakukannya sebagai inspirasi kreatif secara umum, bukan instruksi untuk menyalin suara artis tersebut.
Pendekatan ini diperkuat dengan berbagai sistem penyaringan dan pelabelan data guna meminimalkan risiko pelanggaran hak cipta maupun penyalahgunaan teknologi.

















































Discussion about this post