Capgemini melalui Cambridge Consultants bahkan telah mengembangkan pendekatan tersebut dengan menggabungkan laboratorium fisik, rekayasa biologi, dan eksperimen digital dalam satu sistem terpadu.
Mereka menjalankan laboratorium bioteknologi berbasis AI dengan dukungan ahli multidisiplin di bidang biologi, kimia, AI, digital twins, elektronik, dan perangkat lunak.
Eksperimen dirancang menggunakan model bahasa protein milik Cambridge Consultants dan dieksekusi secara otomatis.
Hasil eksperimen kemudian langsung dikembalikan ke sistem AI untuk dianalisis lebih lanjut.
Pendekatan ini diklaim mampu mengurangi jumlah eksperimen hingga menggunakan 99 persen lebih sedikit titik data dibanding metode konvensional.
Dampaknya, biaya penelitian dapat ditekan dan hasil dapat diperoleh jauh lebih cepat.
AI juga diperkirakan akan mengubah masa depan uji klinis.
Saat ini teknologi tersebut sudah membantu proses perekrutan pasien, pengelolaan lokasi uji coba, hingga desain penelitian.
Menurut riset Capgemini, enam dari 10 pemimpin riset dan pengembangan percaya AI akan meningkatkan efisiensi dan hasil uji klinis secara signifikan.
Ke depan, peluang terbesar diperkirakan datang dari penggunaan data sintetis berbasis AI.
Teknologi ini dapat mengurangi kebutuhan kelompok placebo dalam uji klinis atau memperkuat data penelitian agar hasil studi menjadi lebih akurat secara statistik.
Pendekatan tersebut dianggap sangat penting terutama untuk penyakit langka dan penyakit berat.
AI bahkan dapat memodelkan respons pasien dalam jangka panjang tanpa harus menunggu observasi selama bertahun-tahun hanya untuk mengumpulkan data.
















































Discussion about this post