Airlangga menyampaikan bahwa inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan (year-on-year), sedangkan secara bulanan (month-to-month) berada di angka 0,22 persen.
Sementara itu, inflasi sepanjang tahun berjalan atau year-to-date mencapai 2,4 persen, sehingga masih berada dalam rentang sasaran inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.
Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, seperti cabai rawit dan ikan segar, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi inflasi pada periode tersebut.
Selain bahan pangan, sektor transportasi, termasuk angkutan udara, turut memberikan tekanan terhadap perkembangan harga.
Untuk mengantisipasi dampak kenaikan biaya transportasi menjelang perayaan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, pemerintah telah menyiapkan program pemberian diskon transportasi.
“Jadi kalau year to date 2,4 persen, juga ini masih dalam range 2,5 plus minus 1 persen. Terutama kalau kita lihat inflasi ini sebabkan oleh volatile food, makanan minuman, cabai rawit, ikan segar. Kemudian juga didukung oleh inflasi di bidang transportasi. Termasuk angkutan udara namun kita punya program untuk diskon menjelang nataru (natal dan tahun baru). Jadi kenaikan itu nanti kita akan kompensasi dengan diskon,” ujar Airlangga.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk mempertahankan daya beli masyarakat sekaligus menjaga kelancaran aktivitas ekonomi selama periode libur akhir tahun yang biasanya diikuti peningkatan mobilitas masyarakat.
















































Discussion about this post