Selain sektor industri, neraca perdagangan Indonesia juga memperlihatkan kinerja yang menggembirakan dengan kembali mencatatkan surplus pada September 2026.
Berdasarkan pemaparan Airlangga, surplus perdagangan pada bulan tersebut mencapai 3,36 miliar dolar AS atau sekitar Rp55,4 triliun dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS.
Pencapaian itu ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas sebesar 5,67 miliar dolar AS, meskipun sektor migas masih mengalami defisit sebesar 2,31 miliar dolar AS.
Jika dihitung secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia selama Januari hingga September 2026 berhasil membukukan surplus sebesar 10,61 miliar dolar AS.
“Dari segi bulan Januari sampai September 2026, ini surplusnya neraca perdagangan kita 10,61 miliar. Dipicu oleh surplus non-migas sebesar 34,21 miliar dan walaupun defisit migas mencapai 23,6 miliar,” imbuh Airlangga.
Kinerja ekspor nasional juga memberikan kontribusi terhadap perkembangan positif tersebut.
Airlangga mengungkapkan bahwa total ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 tumbuh 5,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year).
Nilai ekspor secara keseluruhan mencapai 221,23 miliar dolar AS, sementara ekspor nonmigas tercatat sebesar 212,27 miliar dolar AS.
“Nah sedangkan dari ekspor kita lihat secara total naik 5,58 persen year on year. Jadi tahun ini Januari-September 221,23 miliar (dolar AS). Kemudian dari segi non-migas ekspornya 212,27 (dolar AS),” ungkap Airlangga.
Di tengah penguatan aktivitas perdagangan dan industri, pemerintah juga terus mencermati perkembangan inflasi guna menjaga daya beli masyarakat.
















































Discussion about this post