Menurutnya, pemantauan kondisi lingkungan, termasuk ketinggian permukaan air gambut, dapat menjadi indikator penting dalam memperkirakan potensi kebakaran.
“Jadi harus bisa mendeteksi, mengidentifikasi semua permasalahan yang ada, kemudian kita membuat analisa korelasi, dan akhirnya kita membuat proyeksi. Saya sudah melihat beberapa negara, itu sesuatu yang bisa diperkirakan. Kalau kita sudah tahu permukaan air gambut itu, kalau misalkan itu sudah kurang dari 40 cm, ya kita harus segera berbuat,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya sistem pemantauan dini dalam strategi pencegahan karhutla, sehingga langkah penanganan dapat dilakukan sebelum kondisi gambut semakin kering dan risiko kebakaran meningkat.
Melalui penguatan pemetaan, dukungan tenaga ahli, pemanfaatan teknologi, dan kolaborasi antarlembaga, BPGMN menargetkan penurunan kejadian kebakaran berulang sekaligus pemulihan ekosistem gambut dan mangrove secara bertahap.(*)



















































Discussion about this post