Pendekatan tersebut dinilai lebih efektif karena mampu mengurangi potensi munculnya titik api sejak awal melalui peningkatan kelembapan tanah dan lahan gambut.
“Tidak hanya kita menunggu adanya titik api, kemudian kita padamkan dengan waterbombing, kemudian dengan pemadam yang disemprot, dan sebagainya. Tapi ketika permukaan air tanahnya sudah menurun, itu dilakukan modifikasi cuaca yang dapat menjatuhkan jutaan kubik air, dan kemudian dapat menjenuhkan daerah tersebut. Sehingga sekarang kita lihat bahwa untuk kebakaran hutan dan lahan relatif lebih dapat dikendalikan dibanding sebelum 2015,” pungkasnya.
Melalui penguatan operasi modifikasi cuaca serta koordinasi lintas kementerian dan lembaga, pemerintah berharap dampak musim kemarau dan fenomena El Nino dapat ditekan semaksimal mungkin sehingga ketahanan air nasional tetap terjaga, risiko kebakaran hutan dan lahan berkurang, serta aktivitas masyarakat dan sektor pertanian tidak terganggu.(*)














































Discussion about this post