Di daerah-daerah tersebut, operasi modifikasi cuaca akan dilakukan secara berkala untuk menjaga kelembapan lahan, terutama kawasan gambut yang sangat rentan terbakar ketika memasuki musim kemarau.
“Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar. Termasuk kita melakukan di Kepulauan Riau juga untuk modifikasi cuaca, dan juga di Aceh, beberapa tempat secara situasional tergantung situasi dan kondisi,” ungkapnya.
Selain difokuskan pada pencegahan kebakaran hutan dan lahan, modifikasi cuaca juga akan dimanfaatkan untuk meningkatkan cadangan air di berbagai bendungan dan waduk di Indonesia.
Langkah tersebut dilakukan melalui kolaborasi BMKG dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta sejumlah mitra dari sektor swasta.
Menurut Faisal, pemerintah memiliki sekitar 240 waduk yang sebagian di antaranya akan menjadi sasaran pengisian air agar tetap mampu mendukung kebutuhan pembangkit listrik tenaga air (PLTA), sistem irigasi pertanian, hingga penyediaan air bersih bagi masyarakat.
“Untuk kekeringan, BMKG melakukan beberapa modifikasi cuaca, bekerja sama dengan BNPB, bekerja sama dengan Kementerian Kehutanan, dan juga dengan swasta untuk pengisian waduk. Pengisian waduk-waduk yang ada di Indonesia, kita punya 240 waduk, beberapa memang tidak semua itu kita coba isi agar bisa difungsikan untuk PLTA, bisa difungsikan untuk irigasi, dan air bersih,” ujarnya.
Faisal menegaskan bahwa strategi pemerintah kini lebih mengedepankan langkah pencegahan dibanding hanya berfokus pada penanganan setelah kebakaran terjadi.














































Discussion about this post