Dalam kesempatan yang sama, Presiden juga menyoroti kondisi geopolitik internasional yang saat ini semakin dinamis dan penuh ketidakpastian.
Menurutnya, hubungan antarnegara kini bergerak sangat cepat sehingga sulit memprediksi siapa yang akan menjadi mitra maupun pihak yang berseberangan dalam berbagai isu global.
“Situasi mungkin berubah, sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa lawan siapa. Kita beruntung, saya beruntung, Presiden Indonesia menerima warisan dari pendiri-pendiri bangsa kita, bahwa politik luar negeri Indonesia adalah politik non-aligned, politik nonblok,” tuturnya.
Presiden menegaskan bahwa Indonesia akan tetap mempertahankan politik luar negeri bebas aktif dan tidak akan bergabung dengan pakta militer mana pun.
Menurut Presiden, prinsip tersebut merupakan warisan strategis yang terbukti menjaga independensi Indonesia di tengah persaingan kekuatan dunia.
“Kita bersahabat sama semua negara, kita bersahabat sama semua kekuatan. Kita tidak mau terlibat dengan pakta-pakta militer siapapun. Karena itu, begitu saya menerima mandat sebagai Presiden, saya langsung gariskan politik luar negeri kita meneruskan politik non-aligned, politik nonblok, politik bebas aktif. Seribu kawan terlalu sedikit, satu lawan terlalu banyak,” ucap Presiden.
Lebih lanjut, Presiden menjelaskan bahwa posisi Indonesia saat ini semakin diperhitungkan dalam berbagai forum internasional.
Sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki jaringan diplomasi yang luas dan menjadi anggota berbagai organisasi penting dunia.

















































Discussion about this post