Selain itu, Presiden juga menyoroti pentingnya Pancasila sebagai perekat utama bangsa yang selama puluhan tahun berhasil menjaga Indonesia tetap utuh di tengah berbagai tantangan.
“Kecemerlangan selanjutnya adalah Pancasila. Pancasila yang telah mempersatukan. Ini saya kira sudah lah kita ya, kita terima dan anak-anak muda sekarang menerima, seolah-olah ya, apa ya, itu biasa,” imbuh Presiden Prabowo.
Menurut Presiden, banyak generasi muda yang menganggap keberadaan Pancasila sebagai sesuatu yang biasa karena telah lama menjadi bagian dari kehidupan berbangsa.
Padahal, di banyak negara lain, perbedaan ideologi, agama, maupun identitas kerap memicu konflik berkepanjangan.
Karena itu, Presiden meminta seluruh rakyat Indonesia untuk tidak menganggap remeh nilai-nilai yang telah diwariskan para pendiri bangsa.
“Jadi, janganlah kita menganggap apa yang kita miliki sekarang adalah biasa-biasa saja. Di tengah itu semua, kita juga harus mengakui bahwa apa yang diberikan oleh pendiri bangsa kita, selain Pancasila adalah Undang-Undang Dasar 1945,” ungkap Kepala Negara.
Presiden juga menegaskan bahwa pembangunan nasional harus selalu berpedoman pada konstitusi sebagai cetak biru perjalanan bangsa.
Ia mengibaratkan pembangunan negara seperti membangun sebuah gedung yang memerlukan rancangan teknis yang jelas agar dapat berdiri kokoh dan berfungsi sesuai tujuan.
“Kita telah meninggalkan sendi-sendi yang paling penting yaitu sendi rancang bangun bangsa. Bagaimana kita mau mendirikan gedung tanpa suatu blueprint, tanpa suatu gambar teknis. Kalau kita menyimpang dari blueprint, dari cetak biru, kita menyimpang, gedung itu runtuh. Kita sudah diberi rancang bangun blueprint, tapi kita pura-pura bahwa itu tidak penting,” ungkap Presiden Prabowo.

















































Discussion about this post