Ia mengatakan bahwa ketika pasar mengalami tekanan likuiditas, investor cenderung menjual Bitcoin untuk menutupi kebutuhan aset lain dalam portofolio mereka.
Selain itu, Dalio menilai ukuran pasar Bitcoin masih jauh lebih kecil dibandingkan emas.
Menurutnya, emas tetap memiliki posisi yang jauh lebih kuat dalam sistem keuangan global karena kepemilikannya lebih luas dan telah lama menjadi bagian penting dalam strategi cadangan serta investasi dunia.
Perdebatan semakin memanas setelah perusahaan Strategy merilis data performa berbagai kelas aset sejak dimulainya era yang mereka sebut sebagai “Bitcoin Standard Era” pada 10 Agustus 2020.
Berdasarkan data tersebut, Bitcoin mencatat imbal hasil tahunan sebesar 40 persen.
Angka itu jauh melampaui berbagai instrumen investasi tradisional lainnya.
ETF Nasdaq-100 QQQ hanya mencatat imbal hasil tahunan sebesar 19 persen.
Sementara ETF S&P 500 SPY menghasilkan 16 persen.
Adapun emas melalui instrumen GLD mencatat return tahunan sebesar 15 persen.
Data yang sama juga memperlihatkan performa lebih lemah pada sektor tradisional lainnya.
Instrumen properti VNQ hanya menghasilkan return tahunan sekitar 6 persen.
Sedangkan obligasi melalui BND justru mencatat kinerja negatif sebesar minus 1 persen.
Strategy menegaskan bahwa Bitcoin tidak hanya mengungguli emas dari sisi keuntungan, tetapi juga memiliki rasio Sharpe yang lebih tinggi selama periode tersebut.
Perusahaan itu menyebut emas sebagai “modal analog” dan Bitcoin sebagai “modal digital.”
Selain itu, Strategy berpendapat transparansi Bitcoin justru membuat aset tersebut cocok digunakan sebagai jaminan global.

















































Discussion about this post