Ryder menjelaskan bahwa pasukan Korea Utara terutama berperan sebagai infanteri dan mulai aktif bertempur sekitar satu minggu lalu.
Di sisi lain, juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyerahkan pertanyaan terkait ini kepada Kementerian Pertahanan Rusia, yang hingga kini belum memberikan komentar.
Dukungan Korea Utara terhadap Rusia semakin kuat sejak pemimpin tertinggi mereka, Kim Jong Un, berjanji memberikan dukungan penuh untuk invasi skala besar Rusia ke Ukraina melalui perjanjian pertahanan bersama.
Situasi ini semakin memperumit dinamika geopolitik global. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menegaskan bahwa rencana AS untuk menempatkan rudal jarak menengah di Eropa dan Asia menimbulkan ancaman baru.
“Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, kami harus mengambil langkah-langkah tambahan untuk memastikan keamanan Rusia dan sekutunya,” ujar Putin dalam pertemuan bersama pejabat militer tinggi.
“Kami melakukannya secara terukur dan seimbang agar tidak terjebak dalam perlombaan senjata penuh,” tambahnya.
Namun, sejumlah analis militer menilai hambatan bahasa menjadi kendala besar dalam koordinasi tempur antara pasukan Rusia dan Korea Utara.
“Integrasi yang buruk dan masalah komunikasi yang berkelanjutan antara pasukan Rusia dan Korea Utara kemungkinan akan terus menimbulkan gesekan dalam operasi militer Rusia di Kursk dalam waktu dekat,” ujar lembaga kajian Institute for the Study of War yang berbasis di Washington.
Sebelumnya, pada 5 November, pejabat Ukraina menyebutkan bahwa pasukan mereka untuk pertama kalinya berhadapan langsung dengan unit tentara Korea Utara yang baru saja dikerahkan untuk membantu Rusia.












































Discussion about this post