Lee Choon Geun, peneliti kehormatan di Institut Kebijakan Sains dan Teknologi Korea Selatan, menduga bahwa komponen propelan yang memungkinkan dorongan mesin lebih besar mungkin disuplai oleh Rusia.
Hal ini akan membuat rudal Korea Utara mampu membawa muatan yang lebih besar, lebih stabil saat terbang, dan lebih akurat dalam menghantam target.
Sementara itu, Kwon Yong Soo, profesor kehormatan di Universitas Pertahanan Nasional Korea Selatan, menyatakan bahwa Korea Utara kemungkinan sedang menguji sistem hulu ledak ganda untuk ICBM yang ada.
Menurutnya, tidak ada alasan bagi Korea Utara untuk mengembangkan ICBM baru ketika mereka sudah memiliki sistem yang dapat menjangkau hingga 15.000 kilometer, cukup untuk mencapai wilayah manapun di bumi.
Pakar lainnya, Yang Uk dari Asan Institute for Policy Studies, mengungkapkan bahwa peluncuran ini mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan kemampuan Korea Utara meskipun sumber daya militer mereka sudah dialihkan ke Rusia.
Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, Sean Savett, mengutuk uji coba rudal tersebut sebagai “pelanggaran terang-terangan” terhadap sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB yang meningkatkan ketegangan dan merusak stabilitas kawasan.
Amerika Serikat menegaskan akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk memastikan keamanan daratan Amerika serta sekutu-sekutunya di Korea Selatan dan Jepang.
Juru bicara militer Korea Selatan, Lee Sung Joon, mengungkapkan bahwa rudal tersebut mungkin diluncurkan dari kendaraan peluncur 12 poros, platform peluncuran bergerak terbesar yang dimiliki Korea Utara, yang memperkuat dugaan bahwa Korea Utara tengah mengembangkan ICBM dengan ukuran yang lebih besar.













































Discussion about this post