Rudal berbahan bakar padat lebih mudah dipindahkan dan diluncurkan dengan cepat dibandingkan rudal berbahan bakar cair.
Menteri Pertahanan Jepang, Gen Nakatani, mengungkapkan bahwa rudal tersebut terbang selama 86 menit dan mencapai ketinggian lebih dari 7.000 kilometer, melebihi data dari uji coba rudal Korea Utara sebelumnya.
Ini menunjukkan bahwa dorongan mesin rudal tersebut telah meningkat, memungkinkan rudal untuk membawa hulu ledak yang lebih besar.
Jung Chang Wook, kepala lembaga think tank Korea Defense Study Forum di Seoul, mengatakan rudal tersebut kemungkinan mampu membawa hulu ledak nuklir paling besar dan paling merusak milik Korea Utara.
Selain itu, peluncuran tersebut mungkin juga bertujuan untuk menguji aspek teknologi lainnya yang diperlukan Korea Utara dalam mengembangkan program ICBM mereka lebih lanjut.
Kemajuan teknologi rudal Korea Utara telah terlihat dalam beberapa tahun terakhir, namun banyak pakar asing yang meyakini negara tersebut belum memiliki rudal berkemampuan nuklir yang benar-benar mampu menyerang daratan Amerika Serikat.
Para ahli khawatir Korea Utara mungkin akan mencari bantuan Rusia untuk menyempurnakan rudal-rudal tersebut sebagai imbalan atas dugaan pengiriman ribuan pasukan Korea Utara ke Rusia.
Pada hari Rabu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Lloyd Austin, menyatakan bahwa pasukan Korea Utara mengenakan seragam Rusia dan membawa peralatan militer Rusia bergerak menuju Ukraina, yang ia sebut sebagai perkembangan yang berbahaya dan meresahkan.













































Discussion about this post