Armada tersebut terdiri atas 55 pesawat milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan sembilan pesawat TNI yang dikerahkan untuk menjangkau kawasan kebakaran dari udara.
Water bombing digunakan untuk menjatuhkan air dari udara ke titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau secara langsung oleh tim pemadam di darat.
Selain mengerahkan armada udara, pemerintah juga menurunkan puluhan ribu personel gabungan untuk melakukan penanganan langsung di lapangan.
Total terdapat 54.394 personel yang terlibat dalam operasi tersebut.
Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, Kementerian Kehutanan, BNPB, BPBD, Manggala Agni, relawan, hingga masyarakat.
Kehadiran personel dalam jumlah besar diarahkan tidak hanya untuk memadamkan api, tetapi juga mengantisipasi munculnya titik api baru dan mencegah kebakaran meluas ke wilayah lainnya.
“Sejak Agustus, 64 pesawat telah dikerahkan untuk melakukan water bombing, didukung 54.394 personel gabungan yang terus bergerak di lapangan, menjangkau titik-titik kebakaran dan mencegah api semakin meluas,” katanya.
Pengerahan kekuatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla dilakukan melalui kombinasi operasi udara dan darat, dengan melibatkan unsur pemerintah, aparat keamanan, petugas teknis, relawan, dan masyarakat.
Dengan wilayah terdampak yang luas serta karakter lahan gambut yang kompleks, koordinasi antarlembaga menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga agar kebakaran dapat dikendalikan sekaligus mengurangi risiko asap terhadap masyarakat.(*)

















































Discussion about this post