KH Hasan menjelaskan bahwa proses pembuatan mushaf melibatkan langsung para santri dan ustaz, mulai dari penulisan hingga proses penerbitan dan pencetakannya.
“Dicetak santri Gontor. Diterbitkan di percetakan Gontor. Dibagikan pada anak-anak Gontor. Dihadiahkan kepada Bapak dan pada umat Islam,” imbuh K.H. Hasan.
Mushaf tersebut ditulis tangan oleh para ustaz dan santri atau khatthath Gontor sebelum kemudian melalui proses tashih resmi.
Setelah dinyatakan memenuhi ketentuan, mushaf diterbitkan dan dicetak secara mandiri melalui Percetakan Gontor.
Karya tersebut tidak hanya menjadi bagian dari peringatan satu abad PMDG, tetapi juga merepresentasikan tradisi pendidikan Gontor yang memadukan pembelajaran keagamaan dengan keterlibatan langsung para santri dalam menghasilkan karya.
Adapun buku “Gontor untuk Indonesia” menghadirkan dokumentasi mengenai sejarah perjalanan Gontor sekaligus berbagai bentuk pengabdian para alumninya di tengah masyarakat.
Kiprah tersebut mencakup beragam bidang yang berhubungan dengan pembangunan dan pengabdian kepada bangsa serta negara.
Penyerahan Mushaf Al-Qur’an Gontor dan buku “Gontor untuk Indonesia” kepada Presiden Prabowo berlangsung dalam rangkaian Resepsi Kesyukuran 100 Tahun PMDG.
Momentum satu abad tersebut menjadi penanda perjalanan panjang Gontor dalam dunia pendidikan sekaligus titik awal untuk memasuki fase pengabdian berikutnya bagi umat, masyarakat, bangsa, dan negara.(*)


















































Discussion about this post