“Satu jam berikutnya dilaporkan kondisi kapal mengalami kemiringan berat, dan dalam satu jam berikutnya kapal sudah tidak bisa berkomunikasi. Pada pukul 04.10 Badan SAR Nasional mengaktifkan operasi SAR dan melalui Basarnas Command Center,” ujar Kepala Basarnas.
Setelah menerima laporan tersebut, Basarnas mengerahkan berbagai unsur pencarian melalui jalur laut dan udara menuju lokasi kecelakaan.
Upaya pertolongan juga mendapat dukungan dari sejumlah kapal yang berada di sekitar lokasi kejadian.
Pada hari pertama operasi, sebanyak 108 orang berhasil diselamatkan dalam kondisi hidup, sementara enam korban lainnya dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia.
“Kami sampaikan mulai dari kapal MT Mauhau, kapal TB TCP, Haida, KM Cahaya Bahari, dan kapal Nelayan Sri Asih, telah berhasil mengevakuasi korban dengan jumlah 108 kondisi selamat dan 6 kondisi meninggal. Jadi total korban yang terevakuasi pada hari pertama sebanyak 114 korban,” tuturnya.
Memasuki hari keempat pencarian, Basarnas masih melanjutkan operasi dengan mengerahkan kekuatan dari unsur udara dan laut.
Operasi tersebut juga diperluas ke bawah permukaan air untuk meningkatkan peluang menemukan korban maupun melakukan evakuasi dari bagian kapal yang berada di bawah air.
Basarnas menyiapkan tiga tim khusus untuk operasi bawah air dengan dukungan KRI Canopus yang memiliki kemampuan underwater dari Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal).
“Hari ini, memasuki hari keempat, operasi kami tetap melaksanakan, baik itu dari unsur udara, kemudian unsur laut, dan kami menyiapkan tiga tim untuk melaksanakan operasi sub underwater, di mana untuk unsur kapalnya sendiri, kami didukung oleh KRI yang memiliki kemampuan untuk underwater yaitu Pushidros, yaitu KRI Canopus. Kemudian dari tiga tim, kami kerahkan, yang pertama dari satu tim, dari Basarnas special group, kemudian dua tim dari TNI Angkatan Laut, yaitu dari pasukan katak dan penyelam khusus,” ujar Kepala Basarnas.


















































Discussion about this post